“Hai Berrie”! Berrie adalah nama seekor Beruang Madu jantan berusia ± 3 tahun yang dilepasliarkan oleh tim BKSDA Jambi bersama tim ZSL, tim WPU-FZS dan tim PT ABT. Pelepasliaran ini dilakukan pada selasa, (14/7/20) di kawasan restorasi PT ABT Blok 1 Desa Suo-Suo, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo. Pelepasliaran ini dilakukan karena beruang madu ini merupakan salah satu satwa kunci penyeimbang ekosistem dan dilindungi oleh undang-undang yang mana harus diselamatkan keberadaannya dan kehidupannya di habitat aslinya.

Sebelum pelepasan, Berrie telah diberikan perawatan oleh BKSDA Jambi. Berrie adalah beruang madu yang awalnya diserahkan oleh Kejaksaan Negeri Muara Tebo sebagai barang bukti dari Putusan Pengadilan Negeri Tebo yang telah berkekuatan hukum tetap (Incract) untuk dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Saat itu Berrie masih kecil, berusia 7 bulan. Mengingat beruang madu biasanya disusui selama 18 bulan, maka BKSDA melalui dokter hewan memberikan perawatan seperti pembuatan kandang untuk Berrie yang berada di Seksi Konservasi Wilayah III di Muara Sabak. Di dalam kandang perawatan tersebut, Berrie di fasilitasi berupa habituasi seperti pemasangan pohon, pembuatan bak mandi dan minum dan pelatihan untuk bisa membuat sarang. Pemberian asupan gizi pun juga dipantau mulai dari protein hewani berupa daging ayam, karbohidrat berupa ubi dan labu, serta sumber seratnya berupa buah pir, jambu, bengkuang. Ada juga pemberian pakan pengayaan/enischment seperti umbut, kroto, ulat dan jangkrik sarang yang sudah dipersiapkan didalam kandang.

Dalam masa habituasi selama 2 tahun 2 bulan, Berrie sudah menunjukkan perkembangan yang baik. Dimulai dari kemampuan memakan, mengambil pakan dari batang-batang pohon dan memanjat batang. Pun kondisi kesehatannya juga jauh lebih baik dan aktif bergerak. Melihat kondisi yang signifikan inilah Berrie dinilai sudah mampu untuk dilepasliarkan ke habitat asalnya, di kawasan restorasi PT ABT. Hingga akhirnya, tibalah dimana hari untuk melepaskan Berrie ke rumah asalnya sekitar pukul 20:00 WIB setelah tim berhasil melewati beberapa kendala yakni kondisi lapangan yang banjir. Untuk memastikan kondisi Berrie baik pasca dilepasliarkan, tim memonitor selama 2 (dua) hari pada rabu dan kamis, tanggal 15-16 Juli 2020 demi memastikan posisi dan kondisi Berrie aman dan baik.

Pelepasliaran satwa beruang madu ini merupakan bentuk wujud asa terciptanya keseimbangan ekosistem dan lingkungan hidup yang berkelanjutan (sustainability). Penjagaan flora dan fauna adalah tanggung jawab manusia dalam memegang amanah dari Tuhan untuk atmosfer di bumi ini. Direktur PT ABT, Dody Rukman menanggapi bahwa kegiatan pelepasliaran ini merupakan salah satu tanggung jawab PT ABT selaku pengelola kawasan restorasi. “Pemilihan relokasi beruang ini dirasa aman di lokasi Alam Bukit Tigapuluh karena dari pemantauan, kawasan ini merupakan habitatnya satwa beruang madu sehingga lokasi ini diharapkan dapat menjadi tempat bertahan hidup lebih baik. Maka dari itu, tim PT ABT berusaha untuk menciptakan kondisi dan keselamatan satwa beruang tersebut dengan memonitor secara langsung sehingga keselamatan satwa-satwa kunci yang ada di area kawasan PT ABT dapat dijaga keselamatannya. Monitoring ini juga selanjutnya bekerja sama dengan tim WPU-FZS. Tim juga akan memberikan sosialisasi dan himbauan kepada masyarakat agar tetap tenang dan tidak panik jika berpapasan dengan beruang tersebut.”. Ujarnya.