Sejarah Organisasi

     PT Alam Bukit Tigapuluh telah memperoleh Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Ekosistem (IUPHHK-RE) berdasarkan Surat Keputusan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor: 7/1 / IUPHHK- RE / PMDN / 2015 tanggal 24 Juli 2015 bertempat di Kabupaten Tebo Propinsi Jambi.

     Kawasan hutan areal konsesi PT ABT seluas 38.665 hektar PT ABT di Kabupaten Tebo adalah jenis hutan hujan tropis dataran rendah dengan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi sehingga penting untuk menjaga keberlanjutannya. Beberapa hewan endemik Sumatera menjadi perhatian masyarakat luas yang tinggal di konsesi PT ABT seperti harimau (Phantera tigris sumatrae), gajah (Elephas maximus sumatranus), dan tapir (Tapirus indicus). PT ABT juga mendukung areal konsesinya sebagai habitat kedua atau daerah reintroduksi orangutan sumatera (Pongo abelii), yang telah berjalan sejak tahun 2001. Pentingnya kawasan ini adalah pertimbangan untuk mempertahankan keterwakilan dan keberlanjutannya.

     Dalam konteks pengelolaan lanskap, area kerja PT ABT merupakan bagian penting ekosistem Bukit Tigapuluh dan merupakan zona penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Kondisi wilayah kerja perusahaan tidak hanya dipengaruhi oleh dinamika kegiatan masyarakat setempat, namun juga sejarah pengelolaan hutan sebelumnya. Areal kerja PT ABT adalah bekas IUPHHK-HA / HPH dari PT DALEK HUTANI ESA, yang berakhir pada tahun 2003. Lokasi ini merupakan satu-satunya ekosistem hutan alami dari produksi penyangga yang tersisa di bagian utara Bukit Tigapuluh. daerah yang tidak luput dari kegiatan pembalakan liar dan perambahan, terutama pada masa akses terbuka (antara akhir IUPHHK-HA / HPH sampai dengan izin IUPHHK-RE).

     Wilayah kerja PT ABT juga merupakan tempat tinggal penduduk asli Jambi tradisional, antara lain: Suku Anak Dalam, Talang Mamak, dan Melayu Tuo. Beberapa komunitas dari ketiga suku tersebut tinggal di wilayah kerja PT ABT dan beberapa tinggal di sekitar area kerja perusahaan namun memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap hutan di wilayah kerja perusahaan. Keberadaan mereka diharapkan konsisten dengan tujuan restorasi ekosistem, meski fakta saat ini menunjukkan tren balik. Kompleksitas masalah sosial di tingkat lokasi area kerja PT ABT selama dekade terakhir lebih tinggi karena masuknya orang luar dari luar provinsi untuk mendapatkan peluang bisnis, pembukaan lahan perkebunan di kawasan hutan. Kondisi ini menjadi salah satu tantangan utama bagi PT ABT dalam mengelola hutan untuk restorasi ekosistem. Di sisi lain, PT ABT juga diharuskan untuk dapat melakukan kegiatan usaha berdasarkan hasil hutan bukan kayu, jasa lingkungan dan / atau pemanfaatan kawasan. Dalam kerangka ini PT ABT telah melakukan eksplorasi, persiapan dan upaya pendahuluan lainnya sehingga memiliki desain proses bisnis yang siap diimplementasikan.